Tujuh Langkah ke Negeri Bunian
Oleh: W.S. Handayani
di ujung desa jalan berliku
ada titian tua berlumut bisu
orang berkata, siapa melangkah
hati-hati, hitung langkahmu!
satu, daun kering gemetar jatuh
dua, angin berbisik dalam keluh
tiga, bayang-bayang mulai menari
empat, gemetar kaki berdiri
lima, suara lirih memanggil nama
enam, kabut tebal turun bersama
tapi jangan sampai tujuh langkah
sebab di sana batas terbelah!
konon dahulu ada yang lupa
langkah ketujuh ia terjebak
tertawa sendiri di batas senja
lalu lenyap tiada jejak
kini titian tetap berdiri
hanya sunyi yang menanti
jika kau ingin uji nyali
hitunglah langkah
jangan tergelincir
sebab angka tujuh bukan sembarang
ia rahasia dalam bayang
di antara nyata dan tak terlihat
di sana ruh menanti dekat
Kampus Tercinta, 5 Maret 2025
___
Bionarasi:
Wilda Srihastuty Handayani Piliang. Kelahiran Padang Sidempuan, 17 Januari 1980. Menggemari sastra sejak belajar membaca dengan majalah Bobo. Saat ini mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di UIR, anggota FLP Pekanbaru, dan Chief Editor di Jurnal Sanggam. Aktif menulis puisi di Kelas Puisi Asqa Imagination School (AIS) #51 & 55. IG @whielsayangkamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar