Sandyakala
Oleh: Sapitri Indah
Adakah kau lihat bilikbilik yang menjaraki; ruang murni
tempat kita mengunci semua rindu. Ah tentu tidak, kita adalah tuna netra.
Adakah kau dengar kucuran air dari pompa kendi; air suka rela mengalirkan diri, meski tahu akan dibuang untuk bersesuci. Ah kita adalah tuna rungu.
Adakah kau cium aroma tanak nasi dari kendi tanah liat; berharap mengenyangkan perutperut buncit yang dikunyah nikmat dengan sejumput garam. Ah begitu adanya.
Adakah kau tahu, betapa saat sandyakala lebih terasa sunyi dari malam itu sendiri?
Duduk termangu, menunggu Mimi yang pamit ke Selatan dan Mama menyusul ke Utara.
Datangnya kabar angin, yang mewujud diri; menatap tanpa mata, berbicara tanpa laring, dan pergi tanpa permisi.
Ah, sudah senja rupanya
terus berulang sampai aku mati kesepian.
Indramayu, 06 Maret 2025
___
Bionarasi:
Sapitri Indah, lahir, besar dan tinggal di Indramayu Jawa Barat. Pekerja 8/5 dan seorang ibu dari seorang anak. Menulis puisi dan cerita pendek. Beberapa puisi tergabung dalam antologi bersama termasuk puisi dalam bahasa daerah. Alumnus AIS #8 dan AIS #48, dan kembali menimba ilmu di AIS #55. Penulis bisa dihubungi di dixily.maditri@gmail.com, dan IG: @sapitri_indah1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar